Jumat, 23 November 2012

Cerita Hikmah : Gadis kecil bertudung hijau



                                                                                                              Oleh : Lisa Tjut Ali


Suatu siang di hari sabtu yang indah. Saat Saya dan suami habis berbelanja di sebuah kedai turki langganan kami, ketika  tangan sibuk menyusun barang belanjaan, mata saya justru tertumpu pada sosok gadis berwajah mungil yang duduk di samping pintu kedai. Dari wajahnya Saya dapat menebak umurnya sekitar 9 atau 10 tahunan. Wajah putihnya begitu semakin sempurna dengan balutan tudung warna hijau. Bukan pada umur dan wajahnya yang menarik perhatian saya, tapi pada sebuah kaleng kecil berisi beberapa uang euro yang terletak persis di depannya. Gadis itu terduduk diam namun wajahnya yang sekali-sekali beradu pandang dengan saya seakan-akan ingin bercerita tentang kisah luka hidupnya.  Lidah saya  kelu seakan mengerti garis hidupnya.  Sangat berharap dapat membuatnya bahagia walau Saya tahu  tak kan  mampu sepenuhnya menghapus cerita lukanya. Mulut indah gadis tampa nama itu berucap selalu berucap  satu kata “ danke”  sambil tersenyum manis pada setiap orang yang lewat dan memberinya uang.

 Kini walau Saya telah berlalu jauh dari gadis itu, namun bayangan gadis itu terus menari-nari dalam ingatan menjadi sebuah pengalaman berharga betapa hidup ini tak selamanya sempurna, tak selamanya apa yang kita impikan itu ada, tak selamanya kehidupan ini lengkap, namun kita harus tetap bertahan dalam sebuah tujuan. Tujuan untuk meraih cita-cita dan  cinta karena Allah. Semua yang terjadi ini adalah sebuah ujian dari-NYA untuk melihat dan memilih insan-insan mana yang terbaik dan takwa. Semoga kita semua lulus dalam ujian-NYA.




Cerita Hikmah : Lelaki Tua di Pauluskirche



                                                                                                      Oleh : Lisa Tjut Ali



Setiap pagi saat melintasi gereja pauluskirche yang terdapat di area lingkungan rumah saya di grunewstrassse cukup mengiris hati. seorang lelaki tua separuh baya hampir seusia ayah saya terbaring dikursi panjang sambil tubuh mengigil menahan dingin yang menembus tulang. Tak dapat Saya bayangkan bagaimana lelaki seusia itu dapat bertahan hidup jika musim salju tiba tampa penghawa panas, tampa selimut tebal,  dan tampa rumah tempat berlindung. Dari kejauhan saya lihat tubuhnya yang telah rentan di makan usia itu semakin kedinginan sambil sekali-sekali merapatkan kedua kakinya keatas.  Di antara hembusan asap yang keluar dari mulutnya  terdengar suara batuk  yang menyesakkan jiwa.  Suara kicauan burung yang bertengger di sebuah pohon yang tumbuh persis di samping kursi panjang yang di tiduri lelaki tua itu, sekan ikut menunjukkan rasa simpati. Mungkin cicak putih yang  sedari tadi ada didinding gereja tua itu pun akan menaruh kasihan padanya. Beberapa orang yang melalui tempat itu pun melihatnya dengan mata teduh. Mungkin semua yang memperhatikannya akan merasa kasihan padanya tampa mampu berbuat apapun, namun kata simpati saja  tak kan mampu menghilangkan penderitaaanya.  Untuk kali ini pun Saya tak mampu berbuat apa-apa selain berlalu pergi dengan menahan keperihan  dan  berharap ia akan baik-baik saja.

Sungguh Saya sangat bersyukur dengan kehidupan saya sekarang, walau kadang tawa dan air mata kerap datang silih berganti, namun setidaknya Saya masih punya rumah tempat berteduh, masih punya keluarga tempat  bermanja, masih punya teman tempat bercerita.  Apa yang saya lihat disetiap pagi ini adalah pelajaran  dan teguran untuk saya agar selalu bersyukur dan sabar atas semua takdir hidup. Apa yang ditakdirkan untuk kita sekarang adalah yang terbaik untuk kita jalani. Di dunia ini kadang ada kemudahan dan kadang ada kesukaran semua adalah cobaan dari-NYA untuk melihat insan-insan mana yang bersyukur dan sabar atas cobaan-NYA.