Kamis, 25 April 2013

Nasib Nomaden



Oleh : Lisa Tjut Ali


Jadi teringat saat mudik lebaran, selain menyenangkan juga ada repotnya, terutama saat harus bereskan barang-barang yang akan di bawa, dari kemas baju dalam koper sampai pusingnya mencari oleh-oleh yang bagus tapi jimat kos. Belum lagi di tambah dengan penatnya saat beres-beres rumah yang akan di tinggal mudik untuk beberapa hari atau boleh jadi sampai beberapa minggu. Puyeng nya kepala mikir keuangan juga masuk dalam list mudik. Itu baru repot mau mudik, belum lagi repot sehabis balik dari mudik. Daftar tugas yang dilakukan pun seperti merekam kembali kegiatan yang sama waktu mau mudik, mulai merapikan kembali baju-baju dari koper ke lemari, baju-baju yang kotor di cuci,  sekaligus membersihkan perabot-perabot yang berdebu selama di tinggal mudik.

Wah ini baru cerita repot bila mudik, trus gimana kalau repot saat harus nomaden,  alias pindah-pindah rumah selama di perantauan, seperti saya dan suami yang dalam dua tahun bahkan setahun sekali nomaden ke negara lain. Bukan lagi rambut yang keriting alhasil pikiran pun ikut keriting. Dari repotnya membersihkan rumah sewa yang akan di tinggal,  sampai membersihkan rumah baru yang akan di tempati, itu belum lagi mengemas barang yang akan ikut di nomaden kan. Repotnya mencari rumah baru serta menyesuaikan diri dengan lingkungan baru juga masuk dalam daftar menu ( kayak restoran aja pakai daftar menu segala, wkkkkkkkk). Memburu tempat belanja yang terdekat dan murah juga ikut menguras tenaga. Inilah daftar nomaden saya selama beberapa tahun merantau ke negara jiran kuala lumpur dan Jerman.

 Saat di Kuala Lumpur :

1.      Apartement  di hentian 4
Di apartemen ini kami menyewa lantai 5 pemiliknya Lee kok siong, walau pemilik nya orang cina namun beliau sangat baik dan ramah, malah uang sewa rumah setiap bulan jadi berkurang bukannya bertambah, beliau sangat sibuk sehingga jarang menagih biaya sewa,  kami yang selalu mengantar uang kepada beliau, bahkan tak jarang beliau lupa untuk menagihnya, kalau saja tidak kami ingatkan, namun saya dan suami sangat menghargai kepercayaan beliau, walau tidak di tanggih setiap bulan kami tetap mengantarnya tepat waktu, kepercayaan ini yang membuat beliau memberi kami bonus untuk mengurangi biaya sewa perbulan. Rumah beliau sangat tinggi, sehingga  lelah setiap hari harus naik turun tangga, namun saya dan suami sangat betah tinggal di aprtement ini, selain punya jiran  yang sangat baik dan ramah juga kondisi apartement yang begitu sangat nyaman. Setelah setahun di sana kami terpaksa pindah karena pemilik apartement mau menjualnya, untuk di jadikan modal usaha. Akhirnya saya dan suami nomaden ke apartement lain.

2.      Apartement di hentian 5
Setelah berbulan-bulan mencari rumah yang baru,  akhirnya menemukan sebuah apartement lagi, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari apartement yang pertama. Apartement kami yang baru ini pemiliknya juga orang cina yaitu tuan Lau.  Pemiliknya juga sangat ramah dan  baik, setiap ada perayaan cina beliau selalu memberikan kami bingkisan, saya dan suami tidak perlu ragu untuk makan bingkisan pemberian beliau,  karena walau beliau tidak seagama dengan saya dan suami, namun beliau begitu menghargai agama saya, setiap memberi bingkisan, beliau selalu memberi bingkisan yang ada logo halal, agar saya tidak bimbang untuk makan. Saya begitu betah tinggal dirumah baru ini, selain tidak terlalu tinggi hanya lantai 4 juga sangat nyaman pemandangan dari luar apartement. Selain dekat dengan restoran, apartement saya ini juga dekat dengan surau. Dari balkon rumah saya dan suami dapat menikmati indahnya suasana malam menara kembar dari kejauhan.  Tanpa terasa waktu begitu cepat berputar, saya dan suami terpaksa nomaden lagi ke indonesia karena sudah submit tesis.

3.      Sungai Tangkas
Setelah beberapa bulan kembali ke indonesia, akhirnya saya dan suami mendapat panggilan untuk sidang tesis.  Ternyata mencari rumah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena belum dapat rumah sewa, akhirnya kami menumpang rumah sahabat suami saya untuk beberapa hari.  Setelah berhari-hari mencari,  akhirnya  kami menemukan rumah sewa di sungai tangkas.  Rumahnya sangat nyaman karena rumah teres,  bukan apartement yang tinggi, yang lebih nyamannya ada halaman untuk olah raga,  sehingga saya dan suami bisa mengisi kekosongan waktu dengan  bermain bulu tangkis. Pemiliknya juga sangat ramah yaitu encik nuh, selain mudah untuk belanja juga sangat dekat dengan surau, para tetangga juga sangat baik dan ramah, tukaran menu makanan serta undangan perayaan sudah menjadi rutinitas saya dan suami. Selama tinggal di sini saya dapat menikmati berbagai masakan khas daerah pemberian para jiran.  Allhamdulillah sidang tesis saya dan suami berjalan lancar.  Akhirnya Saya  harus nomaden lagi ke Indonesia karena sudah selesai S2.

4.      Hentian 1 Lantai 1
Setelah beberapa bulan di Aceh, kami kembali ke Malaysia,  karena suami mendapat peluang untuk melanjutkan belajar S3 di UKM. Kali ini kami  juga menyewa apartement di Hentian 1 namun lantai 1 sehingga tidak terlalu tinggi. Pemilik apartement ini puan Syukriyah dan Tuan Syukri, namun karena hubungan kami sangat akrab, kami memanggilnya makcik dan pakcik. beliau sangat baik dan begitu mengerti dengan situasi keuangan pelajar, bahkan tagihan uang sewa perbulan  makin di kurangkan, yang membuat saya terharu beliau sangat memperhatikan kenyamanan kami,  berbagai tawaran kebajikan di berikannya untuk kami, seperti menjahit  gorden, dll.  Beliau memang orang kaya yang sangat dermawan dan sederhana, bertuah saya dan suami menyewa rumah beliau, namun karena harus melanjutkan belajar ke Jerman, dengan hati sedih kami harus pindah dari rumah beliau, haru rasanya saat hari terakhir saat kami pindah dan sedang kemas-kemas koper, makcik dan pakcik datang melawat, saling minta maaf dan tukaran email menjadi kenangan terakhir,  kini walau kami sudah berjauhan namun silahturrahmi secara email tetap terhubung, meski hanya sekedar menanyakkan kabar. Terima kasih untuk makcik dan pakcik yang telah menerima kehadiran kami dengan baik.

Saat di Jerman :

5.      Gruneuwalstrasse
Akhirnya kami nomaden ke negara eropa, Jerman adalah pilihannya.  Di negeri yang serba asing ini kami menyewa rumah herr smith. Rumah yang sangat modern dan klasik khas eropa. Walau ini pengalaman pertama kami nomaden ke eropa, tapi tidak terlalu sulit untuk mencari rumah,  rumah telah kami booking awal sebelum keberangkatan melalui  web. Rumah yang kami sewa ini begitu sangat nyaman, karena lengkap dengan furniture yang serba modern dan canggih, bahkan ukuran rumah ini tergolong besar untuk kami berdua. Setelah enam bulan di gruneuwalstrasse, saya dan suami terpaksa menyewa rumah yang lain. Bukan karena tidak nyaman tapi rumah ini kami sewa melalui agen, yang mana selain harus bayar uang sewa perbulan, juga harus bayar uang agen perbulan.  



6.      Gellertstrasse
Setelah diskusi dengan suami, akhirnya kami sepakat pindah.  Pertualangan mencari rumah baru pun di mulai,  media massa, website dan link-link info jadi santapan sehari-hari.  Mencari rumah di Jerman memang sangat sukar,  kalau tidak di booking lebih awal.  hampir setiap hari menghubungi yang punya rumah, namun setelah di kunjungi  kadang kurang sesuai. Di jerman ukuran rumah juga menjadi syarat untuk mengurus visa.  Saya bersyukur sekali, karena selama mencari rumah di bantu oleh seorang rakan dari Malaysia, sehingga tidak terlalu kesulitan untuk mencari alamat rumah yang di tuju, maklum kami baru beberapa bulan di jerman, banyak jalan yang belum pernah kami kunjungi.  Akhirnya melalui web saya menemukan apartement  yang dekat dengan kampus, begitu kami mengunjungi apartement, hati saya langsung terpikat, selain rumahnya nyaman, murah,  lengkap funiture, dekat kampus, dekat dengan belanja juga di kelilingi oleh jiran-jiran yang ramah.  Ternyata pemilik rumah ini juga herr smith namun saya menemukan alamatnya melalui web, saya baru tahu bahwa rumah itu punya herr smith setelah nama yang tertera di web. Untuk rumah ini saya tidak perlu membayar biaya agen,  Karena rumah ini saya hubungi langsung herr smith tanpa perantara agen. 



Akhirnya Nomaden kemari


 Di Gellertstrasse ini kami nomaden


Jalan Gellertstrasse 


 Gellertstrasse apartement yang sangat bersih dan aman


Mulai beradaptasi dengan lingkungan dan jiran baru di Gellertstrasse 


Bergaya sesaat  di Gellertstrasse sebelum ke kampus 


Suami pun ikutan bergaya 


Musim semi yang memikat


Pohon yang menarik, hanya bunga saja tanpa daun


Beginilah nasib saya yang terus hidup secara nomaden dan mengembara,  dari satu rumah kerumah yang lain, menjelajah dari satu negeri ke negeri yang lain,  untuk sesuap nasi dan setetes ilmu. Kadang suka menjadi duka dan kadang duka menjadi suka, yang pasti selalu ada tawa di setiap air mata. Insyaallah bahagia akan ada di takdir hidup kami. Di akhir tulisan saya ingin berbagi sedikit  pengalaman dalam mencari rumah serta serba-serbi tentang apartement di Jerman :


1.  Dalam mencari rumah sewa, pilihlah rumah  yang sesuai dengan keuangan. Pilihlah rumah yang bertulis " Provisionsfreie", maksudnya rumah tersebut tanpa ada komisi agen, biasanya rumah yang kita hubungi langsung dengan pemiliknya, tanpa biaya agen. Di Jerman boleh jadi rumah yang sama, pemilik yang sama,  namun punya sistem pembayaran yang berbeda. Yang pertama ada biaya agen dan yang kedua tanpa melalui biaya agen, semua tergantung melalui web mana kita menghubungi rumah tersebut, kadang ada web yang mengambil biaya agen (seperti pengalaman saya yang pertama sewa rumah), namun ada juga web yang tanpa biaya agen ( seperti pengalaman saya yang kedua). Padahal kedua rumah saya tersebut pemiliknya sama,  namun karena saya temukan info dari web yang berbeda, alhasil  cara pembayarannya juga berbeda. Di Jerman kebanyakkan pemilik rumah menawarkan rumahnya melalui website-website, jadi pandai-pandailah dalam memilih website. Ini salah satu website mencari rumah, Di website ini  banyak menawarkan rumah tanpa komisi agen, namun tetap juga selektif.
2.  Pilihlah rumah yang dekat dengan tempat belanja, tempat kerja atau kampus
3.  Pilihlah perumahan yang nyaman dan kondusif dari segi keamanan,  seperti memiliki jiran yang baik dan punya rasa kekeluargaan
4.  Biasakan mencari rumah sewa atau booking lebih awal sebelum hari kepindahan
5.  Sebelum di tempati periksalah kondisi rumah sewa dengan teliti
6.   Sebelum menepati rumah sewa, buatlah perjanjian yang tertulis dengan pemilik rumah, untuk mengelak hal-hal yang tak di inginkan di kemudian hari
7.   Sebelum menanda tangani perjanjian sewa, pahami dahulu isi dari perjanjian tersebut
8.  walau di Jerman terkenal dengan negara yang bebas minum-minuman keras (mabuk), namun negara ini sangat aman, sangat jarang terjadi pencurian di sana, setiap apartement di Jerman di lengkapi dengan alat/bel di pintu utama apartement,  yang mana melalui alat ini kita pemilik rumah dapat bertanya siapa nama tamu yang menekan bel tersebut,  tanpa harus keluar dari rumah, jika memang kita berkenan dan mengenal tamu, kita dapat menekan bel yang ada di dalam rumah. Dengan menekan bel dari dalam rumah, pintu utama aprtement akan terbuka, tamu tadi dapat masuk kedalam aprtement, setelah tamu berada dalam apartement, mereka dapat menekan pintu masuk rumah, sebagai penanda bahawa si tamu sudah bereda di pintu masuk, sehingga pemilik rumah dapat membuka pintu. Jadi jika ingin bertamu ke apartement sangat di anjurkan pihak tamu mengetahui nama belangkang pemilik rumah, hal ini untuk memudahkan saat menekan bel pada pintu utama apartement.
9.  Di Jerman setiap rumah memiliki jendela yang banyak dan besar, yang mana setiap hari penyewa di sarankan untuk selalu membuka jendela rumah, hal ini di lakukan agar rumah tidak lembab terutama pada musim dingin.
10.  Di Jerman di ruang tidur, dapur dan ruang utama,  lantai biasanya di lapisi kayu, agar pada musim panas tidak terasa terlalu panas,  karena lantai berbahan kayu, maka lantai mesti selalu kering, tidak basah, bahkan lantai di ruang mandi pun walau berbahan keramik, mesti sentiasa kering. Memang sudah sifat orang eropa tidak terlalu banyak mengunakan air,  bahkan di WC rumah tidak tersedia air, tisu sebagai penganti air di WC ( namun karena saya tidak terbiasa mengunakan tisu, maka sebagai alternatif, saya sediakan sendiri tempat penampungan air).





Bel di pintu utama apartement, umumnya mengunakan nama belakang



Bel di pintu masuk rumah



Bel di dalam rumah untuk membukakan pintu utama




 Kotak surat, apartement saya terdiri dari 8 jiran





Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca, yang baik jadikan pedoman, yang buruk jadikan pengalaman.








Senin, 15 April 2013

Catatan Jerman : Pendidikan Gratis Ala Deutschland

                                                                                                
                                                                                                         Oleh : Lisa Tjut Ali

                                                                                                   


Pemerintah  Jerman sangat mementingkan aspek pendidikan bagi setiap warga yang menetap di negara mereka. Hal itu dapat di lihat banyaknya Universiti-Universiti terkenal yang ada di Jerman memperlakukan pendidikan gratis kepada seluruh pelajar, baik yang untuk warga negara maupun pendatang asing. Salah satu Universiti yang menerapkan pendidikan gratis ini adalah kampus UDE. Di UDE pelajar tidak perlu membayar iuran semester (SPP), mereka hanya perlu membayar uang administrasi untuk pembuatan kartu perpustakaan dan kartu pelajar yang disebut dengan iuran semester tiket. Semester tiket ini dibayar setiap per semester atau enam bulan sekali sebesar 256 Euro ( dibandingkan biaya pendidikan di Indonesia, menurut saya itu bukan jumlah yang terlalu besar terutama untuk jenjang S3) . Yang mana dengan kartu pelajar ini nantinya dapat naik transportasi secara gratis tanpa harus beli tiket selama enam bulan. Kartu pelajar ini juga dapat digunakan untuk berbelanja di kantin kampus dengan harga diskon, bahkan dengan kartu pelajar ini juga dapat digunakan untuk memperoleh pelayanan fasilitas publik  dengan harga diskon seperti ke tempat-tempat wisata, bioskop, olahraga,  teater, dll.

Untuk pelajar yang membawa serta  anak-anak dan istri pun tidak perlu khawatir dengan pendidikan mereka, karena di Jerman setiap anak-anak baik warga negara atau pendatang diberi pendidikan gratis dari jenjang kindergarten (Taman Kanak-kanak) sampai jenjang Universiti (S3).  Pihak kampus UDE sendiri juga memberi fasilitas pendidikan bahasa Jerman secara gratis bagi istri dan pelajar seperti suami saya yang menjadi " PhD candidate, The Promise double degree doctoral program, Universitat Duisburg Essen (Germany) dan Universiti Kebangsaan malaysia (Malaysia)" . Pendidikan bahasa Jerman ini sangat perlu di ikuti untuk mempermudah pelajar dan keluarga beradaptasi dengan lingkungan kampus dan rumah yang mayoritas masyarakatnya mengunakan bahasa Jerman. 

Walau pendidikan di Jerman gratis,  para pelajar sangat diharapkan mempunyai beasiswa atau persiapan keuangan yang cukup karena biaya hidup di Jerman sangat tinggi seperti biaya  makan, sewa rumah dan insuran kesehatan, namun tetaplah semangat dan optimis dalam melanjutkan cita-cita, kalau ada kemauan, usaha dan doa,  insyaallah pasti ada rezki. Yang penting raihlah impian dan cita-cita.  


Kampus Teknik di UDE


Kampus Teknik  dari belakang



Gedung M di UDE


Kantin Teknik di UDE


Penginapan untuk  Internasional yang berkunjung ke UDE



Penginapan yang berbentuk rumah gaya Eropa


Jalan Lingkar kampus depan  Fakultas Teknik



Jalan Lingkar Kampus dekat penginapan Internasional



Jalan Lingkar Kampus depan pustaka


Jalan Lingkar Kampus yang sering saya lewati



 
Perpustakaan  kampus UDE



Pintu utama perpustakaan



Salah satu tempat penitipan tas di pustaka


Ruang Senyap yang ada di pustaka


Buku-buku  yang tersusun rapi di pustaka



Gedung LB tempat biasa saya duduk


 
Salah satu sudut di LB yang jadi favorit saya



Di sinilah saya selalu menunggu suami sambil menulis blog dan buku

 
Blog saya pun ikutan narsis


 
Gedung Pustaka yang tampak depan gedung L



Salah satu gedung di kampus

 
Bangunan di area kampus


Senja Di UDE


 
Salah satu gedung di kampus yang menarik untuk saya pose




Asrama pelajar UDE




Setiap pelajar mempunyai kotak surat masing-masing




Ternyata di Jerman bukan saja banyak pelajar dari Turki tetapi juga banyak pelajar dari Malaysia dan Indonesia, banyak hal yang menjadi pertimbangan para pelajar untuk memilih negara Jerman sebagai tempat meraih cita-cita. Inilah serba-serbi kenapa Jerman terpilih :

1.  Pendidikan di Jerman gratis ( hal ini sudah saya bincangkan pada awal tulisan ). Tulisan ini saya tulis berdasarkan pengalaman suami dan rakan-rakannya yang kuliah di Universitat Duisburg Essen, namun tak menutup kemungkinan ada kota bahagian tertentu di Jerman atau Universiti tertentu di Jerman yang ada atau mulai mengenakan iuran kuliah, karena kebijakan negara itu dapat berubah aturan setiap masa.
2. Transportasi untuk pelajar di Jerman gratis (* juga sudah pernah saya bahas, baca di Transportasi Gratis Ala Duisburg
3.  Biaya kesehatan yang terjamin karena ada insuran kesehatan
4. Pendidikan untuk anak-anak ( keluarga) pelajar yang terjamin karena pendidikan gratis untuk semua tingkat pendidikan ( juga sudah saya bahas di awal tulisan)
5. Ilmu bidang teknologi dan sains sangat canggih dan inovasi, Ilmu ekonomi nya pun sangat mantap bahkan untuk bidang seni, filsafat dan sosial juga sangat bagus.
6.  Meski biaya hidup di Jerman lumayan tinggi namun sebagai pelajar itu bukan lah suatu kendala besar karena  banyak kemudahan dan potongan harga yang di peruntukkan untuk pelajar. Malah pelajar dapat bekerja sambil kuliah dengan pendapatan yang lumayan untuk memenuhi keperluan hidup.
7.  Dapat mengembara keliling eropa dengan tiket murah, karena Jerman negara anggota uni eropa sehingga pelajar yang memiliki visa Jerman (Visa Schengen) dapat keliling eropa seperti Paris, Belanda, Swiss, Spanyol, dll tanpa harus buat visa lagi cukup dengan visa schengen, sehingga biaya liburan lebih murah dan hemat, peluang ini sangat dimanfaatkan pelajar bila musim libur semester atau musim semi.
8.  Walau masyarakat Jerman mayoritas non muslim, namun mereka menghargai perbedaan agama, malah mesjid ada di beberapa kota besar di jerman seperti di Duisburg. Di kampus-kampus pun ada tersedia surau jika banyak pelajar yang beragama islam. Untuk muslimah tidak perlu merasa risih dalam mengunakan jilbab, karena tidak ada larangan untuk mengunakan jilbab di jerman. Umumnya mereka menghargai masyarakat muslim walau sebagian ada yang bersikap anti Islam, namun pandai-pandai lah dalam membawa diri.
9.   Jerman negara yang aman untuk bepergian, walau jerman bebas untuk minum-minuman alkohol dan mabuk, namun para pemabuk disana  jarang terlihat mengangu atau mengusil masyarakat, sehingga masyarakat aman bepergian walau di malam hari sekalipun ( tapi hati-hati dan waspada tetap perlu)
10. Minat belajar para masyarakat Jerman sangat tinggi, budaya ini juga mempengaruhi motivasi pelajar asing. Di Jerman usia anak-anak di wajibkan untuk hadir sekolah setiap hari. Bahkan orang tua wajib mengontrol anak-anak dalam menghadiri sekolah. Pada usia anak-anak mereka dilarang membuat facebook atau membuka video lucah. Ini artinya jerman sangat disiplin dalam pembentukan pribadi pada anak-anak. Sebaliknya usia dewasa tingkat jenjang Universiti mereka diberi kebebasan berpikir dan berbuat, karena mereka sudah terlatih disiplin sejak kecil, maka walau ada kebebasan untuk berbuat namun mereka tetap mempunyai minat belajar yang tinggi.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk semua pembaca terutama yang punya impian untuk melanjutkan cita-cita ke eropa. Yang baik di jadikan pedoman dan yang buruk di jadikan saja sebagai pengalaman, karena terkadang berawal dari pengalaman buruk  lah sebuah pedoman untuk kehidupan terbentuk.


  Lihat juga :

Memburu makanan halal di Jerman
Nasib Nomaden ( jika ingin tahu tentang Apartemen di Jerman )