Senin, 08 Desember 2014

Lala masak lemak cili api




Resepi keluarga Ed-Sa





Bahan :

Lala (kerang) satu kg
Santan dari satu buah kelapa
Minyak satu sendok makan
Daun salam dua lembar
Serai
Tomat belah enam
Garam secukupnya
Kunyit bubuk satu sendok teh

Bumbu yang dihaluskan :

Cili api hijau ( cabe hijau) 10 buah atau sesuai selera
(kalau tidak suka pedas semua biji cabe dibuang)
Bawang putih dua butir
Bawang merah lima butir

Cara membuat :

1.     Panaskan minyak lalu
2.    Masukan bumbu yang sudah dihaluskan
3.    Masukan serai dan daun salam
4.    Masukan Lala
5.    Aduk hingga rata kemudian masukan santan, kunyit dan beri garam secukupnya
6.    Masukan tomat yang sudah dibelah enam
7.    Aduk hingga mendidik agar santan tidak pecah
8.    Angkat setelah kulit lala berubah warna kemerahan dan santan sudah matang
9.    Lala masak cili api pun siap disajikan




NB :

Sedap disajikan dengan paduan menu ikan asin
plus lalapan terasi. Selamat mencoba  (^_^)






Rabu, 02 April 2014

Saat si kecil bicara politik



                                                                                            Oleh : Lisa Tjut Ali






Ponakan ku...... jika engkau belum mampu memimpin hatimu
 janganlah jadi pemimpin jutaan hati masyarakat



Suatu sore saat lagi duduk santai dengan kakak sulung dan ponakan, tiba-tiba si kecil celoteh tentang caleg dan partai yang dilihatnya di spanduk-spanduk.

" Mimi, bunda, kalau mau gaji guru naik pilih partai dan caleg ini aja (*Sebut nama partai dan caleg)“ ujar si kecil yang berusia 8 tahun.

" Kalau nek ayah pilih partai ini (*Sebut nama partai dan caleg lagi), karena partai ini kasih bibit, cangkul, pupuk, kan nek ayah suka ke gunung “ celoteh si kecil berusia 10 tahun.
Saya dan kakak saling memandang dan tersenyum nyengir lihat ponakan yang ngomong politik.

" Memangnya kakak Ulfa dan ulya tahu darimana tentang caleg dan partai itu “ tanya saya penasaran.

" Kemarin itu baca di spanduk-spanduk yang di tempel di pohon, jalan, dan WC trus diumumkan melalui mobil-mobil yang lewat " ujar mereka polos.

Hmmmm si kecil saja sudah bisa memilih partai dan caleg mana yang membawa inspirasi mereka, saya juga yakin masyarakat sekarang juga sudah bisa menilai partai dan caleg mana yang sesuai memikul inspirasi masyarakat.

Itu caleg dan partai berdasarkan pandangan si kecil.
Lalu bagaimana pandangan teman-teman ?

Hmmmm saya jadi ingat masa sekolah dulu, ketika cekgu tanya siapa yang mau jadi ketua kelas, semua tertunduk, tak ada seorang pun yang mau menunjukkan tangan mengatakan dirinya mampu memimpin kelas, padahal saat itu ada beberapa teman memang layak untuk memimpin kelas, namun mereka hanya mau menjadi pemimpin berdasarkan penilaian teman-teman bukan karena ambisi, walaupun mampu, teman-teman begitu malu menonjolkan diri bahwa mereka mampu, biasanya setelah cekgu dan teman-teman yang lain tunjuk, baru mereka mau menjadi ketua kelas, tapi realita sekarang justru terbalik, banyak sekali orang tanpa malu-malu mempromosikan diri untuk jadi pemimpin, walaupun banyak yang tak layak memimpin, pohon-pohon, jalan-jalan serta fasilitas umum pun dijadikan tempat promosi mereka.

Jadi kalau saya disuruh memilih saya tidak akan memilih calon pemimpin yang sangat menginginkan jabatannya, sementara kemampuannya untuk memimpin tidak ada. Intinya bagi orang yang layak memimpin namun tidak berambisi untuk kedudukan, ia akan merasa bahwa jabatan itu sebuah amanah dan tanggung jawab yang besar untuk dipikul, ia akan selalu merasa tidak layak dan tidak mampu berbuat adil pada masyarakat, ia akan merasa tidak layak untuk jabatan, kecuali memang masyarakat mempercayai dan memilihnya.

         Sekarang coba lihat hampir semua orang merasa diri mampu menjadi pemimpin, semua seakan ingin jadi pemimpin dan terdepan. Sebelum ingin menjadi pemimpin tanyakan diri kita, apakah kita layak untuk menjadi pemimpin jutaan orang? apakah kita sudah mampu memimpin hati kita? apakah kita sudah mampu memimpin keluarga kita? kalau hati kita sendiri belum mampu kita pimpin lalu siapa kita, sehingga tanpa malu berkoar-koar untuk dipilih menjadi pemimpin jutaan hati masyarakat.

Rasululloh SAW juga menyatakan agar tidak memilih seseorang menjadi pemimpin kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya.

“Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari r.a, ia berkata, “Aku dan dua orang dari kaumku datang menghadap Nabi saw. Salah seorang mereka berkata, ‘Ya Rasululloh SAW angkatlah kami sebagai pejabatmu.’ Satu orang lagi juga mengatakan perkataan yang sama. Lalu Rasululloh SAW bersabda, ‘Kami tidak akan memberikan jabatan pemerintahan ini kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya’,” (HR Bukhari [7149] dan Muslim [1733]).

“Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah r.a, ia berkata, “Rasululloh SAW bersabda kepadaku, ‘Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan pemerintahan, sebab apabila engkau diberi jabatan itu karena engkau memintanya maka jabatan tersebut sepenuhnya dibebankan kepadamu. Namun apabila jabatan tersebut diberikan bukan karena permintaanmu maka engkau akan dibantu dalam melaksanakannya’,” (HR Bukhari [7147] dan Muslim [16522]).


 “Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” (HR. Bukhari no. 7149 dan Muslim no. 1733)







 (* Catatan dan renungan untuk diri sendiri agar tidak salah dalam memilih. 
  Di antara banyak calon pemimpin, pilih lah pemimpin yang layak untuk memimpin 










Kamis, 20 Maret 2014

Tak ada manusia yang sempurna



                                                                                                  Oleh : Lisa Tjut Ali




 
Jalani lah takdir dengan bersabar dan bersyukur




Allhamdulillah  

Hari ini Allah mentakdirkan saya bertemu dengan Along dan ibunya saat berada di ruang tunggu hospital. Pertemuan yang hanya beberapa jam itu  menyisakan banyak pelajaran berharga. Along begitu ia menyebut nama dirinya, Along merupakan anak istimewa, yang hidup hanya berdua dengan ibu sejak meninggalnya sang ayah. Along yang berusia 24 tahun bukan seperti remaja lainnya, sejak lahir Along adalah anak yang memerlukan perhatian khusus, walau ia sudah remaja namun prilakunya masih polos seperti anak-anak. Along sangat sayang dengan ibunya, berulangkali saya lihat Along mencium pipi ibunya yang sedang duduk berzikir. Dari penampilan Along yang rapi dan bersih saya dapat menebak, Along tidak kurang kasih sayang dan perhatian dari ibunya.

Di ruang tunggu, semua pasien duduk dengan wajah yang mulai mengambarkan titik kebosanan. Ada yang mengantuk, ada yang menyandarkan kepala ke dinding, bahkan ada yang menghulurkan kaki lurus ke depan saking bosannya.  Menunggu no antrian bertemu dokter spesialis di hospital memang memerlukan kesabaran. Itu belum lagi temu janji yang 1-3 bulan sekali. Kalau mau cepat  tentu saja ke hospital swasta dan tarifnya juga berdasarkan standar swasta. Saya memilih hospital ini karena rujukan dari klinik kampus, yang mana pelajar dapat berobat secara gratis.

Awalnya saya mengira Along yang duduk di samping suami, sama seperti remaja lainnya, setelah lama memperhatikan tingkahnya yang sedikit berbeda, saya baru paham ternyata Along anak yang istimewa. Berulang kali Along melirik  ke arah suami dan saya sambil memberi isyarat dengan merapatkan dua jari telunjuknya (* isyarat yang maksudnya kami sepasang kekasih atau suami istri). Saya tersenyum melihat ulahnya. Suami yang sedang demam memilih menyandarkan kepala ke kursi. Saya lihat Along seperti ingin bersahabat dengan suami, karena suami tidak respon akhirnya Along bermain dengan hp. Abang demam ujar saya mencoba memberi pengertian pada Along, Along menanyakkan pada ibunya apa yang saya katakan, ibunya pun menerangkan pada Along bahwa suami saya sedang sakit demam. Spontan Along meletakkan tangannya di dahi suami dengan lembut untuk memastikan suhu badan suami.  Suami saya tersenyum ke arah Along. Along tampak cemas dengan suhu panas badan suami, sementara ibu Along merasa tidak enak hati dengan sikap Along yang memegang dahi suami. Saya katakan pada ibunya “ tak apa-apa makcik, Along buat tu semua karena perhatian, kami paham kondisi Along “ makcik pun tersenyum sambil berujar “ tak semua orang boleh paham kondisi Along, bahkan kadang ada orang yang pindah tak mau duduk samping Along, coba bayangkan ibu mana yang tak kecik hati bila anaknya diperlakukan seperti itu ”  saya dapat merasakan perasaan makcik tersebut. Saya lihat sendiri Along tidak menganggu orang lain kalau orang lain tidak menganggu  dia, ia duduk rapi di bangku yang bersebelahan dengan ibunya. 

 Tiba-tiba Along menunjukkan sepatunya bagus dengan memberi isyarat jempol sebaliknya memberi jempol ke bawah pada sepatu  makcik yang duduk depan kami. Spontan saja saya dan pengunjung lainnya yang semula mengantuk tertawa nyengir (* dalam hati, pintar juga Along, memang pun sepatu Along lebih cantik dari sepatu makcik tersebut, hehehehehe). Suasana pun menjadi ceria, pengunjung mulai tersenyum-senyum melihat prilaku Along yang comel. Kehadiran Along membuat suasana ruang tunggu yang membosankan menjadi berwarna. Kami yang semula mengantuk menjadi tersenyum, tersenyum melihat tingkahnya Along yang asyik bermain dan bercakap dengan hp (* suaranya pelan tidak memberontak atau menganggu). Sekali-sekali Along akan mengingatkan pasien yang ada di sekitarnya untuk duduk rapi, tidak menaikan kaki ke atas bangku atau menyilang (* saya melihat Along disini sangat peduli dengan orang lain, ia melarang menaikan kaki atau menyilang agar tapak sepatu pasien tersebut tidak mengotori pasien yang lain). Along juga memberi isyarat agar saat duduk di kursi tidak meluruskan kaki sehingga tersandung pengunjung lain yang lalu lalang. Along seperti petugas keamanan yang mengatur supaya duduk rapi.  Along pun dengan ucapan yang kurang jelas mengingatkan saya dan pasien agar tidak meletakkan tas sembarangan. Berulang kali Along menunjuk-nunjuk tas yang terletak begitu saja di lantai atau di atas kursi supaya  kita pengang erat-erat agar tidak kecurian. (* ragut-ragut ucapnya. Maksudnya jaga tas agar tidak kena curi). Pengunjung pun mulai memegang tas erat sambil berucap terima kasih Along sudah mengingatkan kami, Along pun tersenyum senang. Along juga sosok anak yang kuat, dari ibunya saya dapat tahu meski ia tumbuh besar di rumah sakit (selalu di rawat di hospital) namun ia tetap ceria tak pernah mengeluh sakit. 

Pengamatan saya,  Along meski lambat pemikiran namun ia cepat mengerti saat orang bercerita tentang dirinya. Ketika ibunya mengatakan kalau Along baru saja menjalani operasi perut, dengan spontan Along menunjukkan bekas jahitan operasi perut, begitu juga ketika kami tanya namanya, langsung ia sebut Along……..Along. bagi saya Along cerdas meski ia tergolong anak yang lambat pemikiran. Ibu Along memberitahukan bahwa Along sudah menyelesaikan sekolah menengah untuk anak pendidikan khusus atau SLB, Along selalu juara di kelas, kini Along akan kembali mengambil khusus kemahiran. Disini saya menilai, seorang anak yang mengalami kekurangan pemikiran pun jika mendapat didikan dan perhatian yang baik dari orang tua dan keluarga, mereka akan tumbuh menjadi anak yang terarah. 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Lalu orangtuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Satu hal yang membuat saya terharu, ketika saya dan suami asyik berbincang, tiba-tiba di depan kami lewat pasien yang mengunakan kursi roda, kursi roda itu berjalan rapat mengenai lutut suami yang sedang duduk, padahal sisi sebelahnya masih luas. Along yang juga duduk bersebelahan dengan suami, langsung menutupi lutut suami dengan tangannya sehingga tangan Along yang tergesek dengan kursi roda tersebut, ia sengaja menjadikan tangannya sebagai alas agar lutut suami tidak tergesek kursi roda. Saya yang melihat kejadian ini tak mampu menyembunyikan keharuan, suami saya pun merasakan hal yang sama. Along begitu siaga melindungi orang-orang di sekitarnya. Ketika kursi roda itu kembali melintasi kami, tangan Along pun sudah siap kembali memegang lutut suami.

Sungguh kekuasaan Allah, setiap makhluh yang dicipta-Nya, semua punya sisi kelebihan dan kekurangan, Tak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah saja. Di balik  keterbatasan pemikiran Along, Along masih memiliki pemikiran yang bermanfaat bagi orang lain. Ia mampu  memberi senyuman, kenyamanan dibalik kekurangannya. Pengalaman ini membuat diri saya tersentil, Allah anugrahi saya fisik dan pemikiran yang sehat dan sempurna,  namun belum mampu berbuat sepenuhnya seperti Along. Pertemuan ini memberi pelajaran tersendiri bagi saya,  tentang apa yang sempurna menurut kita belum tentu sempurna menurut penilaian Allah, karena kita terlalu naïf suka menilai kesempurnaan dari segi penampilan luar. Mungkin di mata kita Along bukan sosok manusia yang sempurna fisik dan pemikiran,  tapi siapa dapat menduga menurut penilaian Allah,  sikap dan prilaku Along justru mengangkat dia menjadi manusia yang tinggi kedudukannya di hadapan Allah kelah. Sebaliknya tak menutup kemungkinan manusia berdasi dengan stelan jas lengkap yang kita anggap terhormat karena gelar dan pemikirannya, justru menjadi manusia yang paling hina hadapan Allah, jika kehadirannya selama di dunia hanya mengobral kesombongan dan kerugian.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang bermanfaat untuk orang lain, setidaknya kehadiran kita tidak menganggu kenyamanan orang lain.

Terima kasih Along untuk ilmu yang berharga ini
Allhamdulillah Yaa Allah, telah mempertemukan saya dengan Along

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)





                                                                                          Malaysia, 20 Maret 2014